Beijing: Peringatan hari Nakba, ketidakadilan di Palestina memburuk

Beijing: Peringatan hari Nakba, ketidakadilan di Palestina memburuk

Dan kami mendukung menjadikan Palestina sebagai negara anggota penuh PBB sesegera mungkin. China akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong penyelesaian masalah Palestina secara dini, komprehensif, adil dan langgeng, menga

Beijing – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan, peringatan Hari Nakba ke-75 pada tahun ini masih menunjukkan ketidakadilan bagi warga Palestina semakin memburuk.

“Tujuh puluh enam tahun yang lalu, lebih dari separuh penduduk Palestina melarikan diri dari rumah mereka selama perang Arab-Israel pada 1948. Banyak dari mereka dan keturunannya menjadi pengungsi di Jalur Gaza, namun 76 tahun kemudian, ketidakadilan historis yang diderita oleh rakyat Palestina, bukannya membaik malah makin memburuk,” kata Wang Wenbin dalam konferensi pers rutin di Beijing, China, Rabu.

Menurut laman PBB, Hari Nakba pada 15 Mei setiap tahunnya untuk memperingati pengungsian massal warga Palestina yang terjadi selama perang Arab-Israel pada 1948 yang dikenal sebagai “Nakba” atau “bencana”.

Peringatan ini menandai isu krisis pengungsian terlama di dunia dimana lebih dari 5,3 juta pengungsi Palestina yang terdaftar di Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang terus hidup di tengah-tengah konflik, kekerasan, dan penguasaan.

“Jalur Gaza saat ini tinggal reruntuhan dan puing-puing. Mereka yang terluka dan sakit tidak dapat menerima perawatan tepat waktu, mereka yang kelaparan tidak dapat memperoleh kebutuhan dasar, dan mereka yang melarikan diri dari bencana tidak mempunyai tempat untuk pergi,” tambah Wang Wenbin.

Masyarakat internasional, menurut Wang Wenbin, tentu bertanya-tanya, sampai kapan bencana kemanusiaan di Gaza akan berlarut-larut dan kapan penderitaan rakyat Palestina dapat berakhir.

“China dengan tegas menentang perluasan pertempuran di Rafah dan menentang hukuman kolektif terhadap masyarakat di Gaza,” kata Wang Wenbin.

Wang Wenbin pun menyatakan, pemerintah China mendukung pembentukan negara Palestina merdeka yang memiliki kedaulatan penuh berdasarkan perbatasan pada 1967 dan dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

“Dan kami mendukung menjadikan Palestina sebagai negara anggota penuh PBB sesegera mungkin. China akan terus bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mendorong penyelesaian masalah Palestina secara dini, komprehensif, adil dan langgeng, mengakhiri Nakba untuk selamanya,” ungkap Wang Wenbin.

Pada 6 Mei 2024, angkatan bersenjata Israel (IDF) melancarkan apa yang disebutnya operasi kontraterorisme di timur Rafah di perbatasan dengan Mesir dan mengambil alih perbatasan di sisi Gaza. Media Israel juga melaporkan bahwa kabinet militer Israel telah menyetujui perluasan operasi darat.

Rafah menjadi tempat perlindungan terakhir bagi lebih dari 1,4 juta warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari Jalur Gaza utara dan Jalur Gaza tengah akibat perang yang masih berlangsung antara Hamas dan Israel.

Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Hamas di Jalur Gaza untuk membalas serangan Hamas di perbatasan Israel selatan pada 7 Oktober 2023, di mana sekitar 1.200 orang Israel terbunuh dan lebih dari 200 orang Israel disandera.

Lebih dari 35.100 warga Palestina telah terbunuh sejauh ini akibat serangan Israel di Jalur Gaza.

Sedangkan pada periode 1947-1949 setidaknya 750 ribu warga Palestina diusir dari tanah mereka. Pasukan Zionis mengambil 78 persen wilayah Palestina, menghancurkan sekitar 530 kota dan desa di sana, pun membunuh sekitar 15 ribu warga Palestina.

Setelah perang usai, Israel mendapatkan 77 persen wilayah perebutan, kecuali Tepi Barat, Jalur Gaza, dan wilayah timur Yerusalem. Ini membuat Israel memiliki negara, tetapi tidak untuk Palestina.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © 2024



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *